sebuah keluarga yang harmonis, yang lengkap dengan ayah, ibu, bahkan kakak atau adik. membayangkan betapa bahagianya saja ku gak bisa.
ya, takdirku adalah hidup disebuah keluarga broken home dan mempunyai seorang kakak yang belum sempat aku bertemu dengannya Allah sudah mengambilnya terlebih dahulu, ayah dan ibuku bercerai saat usiaku 5 tahun. saat itu yang ku tahu ayahku bekerja di kota Jakarta. sehingga aku tak pernah menanyakan dimana beliau. sesekali ibuku mengajakku untuk menyusulnya ke Jakarta, Cijantung Jakarta Timur ku ingat sekali. saat itu aku yang tidak mengerti apa-apa tiba-tiba mendapati ayahku dengan perempuan yang bukan ibuku, pertemuan berikutnya mereka mempunyai anak namanya lelaki. yang sekarang ini mungkin seusia anak SMP.
sampai saat aku usia SMA, tepatnya Agustus 2010, aku mendapati kabar bahwa ayahku meninggal dunia, aku memang mendapat kabar kalau beliau sakit dan aku sudah sempat menjenguknya, pada saat aku menjenguknya beliau sudah tak dapat melihatku karena sebuah kecelakan membuat matanya menjadi buta dan telinganya sedikit terganggu. waktu itu perasaanku begitu kacau, disatu sisi aku benar-benar sakit hati dan kecewa karena bahkan beliau tak pernah menengokku, apalagi memberiku nafkah,di ini pertama kalinya aku bertemu dengannya setelah pemikiranku mulai mengerti dengan apa yang terjadi. tidak lama setelah aku menjenguknya, aku mendapat kabar jika beliau sedang kritis. aku diantar oleh Om segera ke Boyolali. aku tau mungkin aku salah, tapi setelah sampai disana aku bukannya langsung menemuinya, aku masih merasa sakit hati dan kecewa, sampai beberapa jam aku baru menemuinya, aku berjabat tangan dengannya, dan seketika itu beliau menghembuskan nafas terakhirnya, seketika itu aku menangis. antara menyesal dan harus bisa memaafkan tapi masih sulit. ah begitu sulit menggambarkan bagaimana perasaanku saat itu.
sebelum ayahku meninggalkan kami semua, aku sudah terbiasa tanpanya, aku sudah terbiasa hanya dengan ibuku, berdua saja sampai saat ini. ibuku yang selalu berjuang untukku, beliau bekerja pontang panting untuk kehidupanku, ke Jakarta, sampai ke Malaysia. saat itu aku masih kelas 6 SD. kalau ibuku tidak ke Malaysia mungkin aku tidak bisa melanjutkan sekolah ke SMP. untunglah aku bisa masuk SMP favorit yang negeri sehingga biayanya tidak semahal sekolah swasta. dan saat itu beliau berangkat tanpa ku ketahui, yang ku tahu beliau meninggalkan surat yang memberitahukan bahwa beliau harus bekerja agar aku tetap bisa sekolah, dan beliau meninggalkan satu lembar 20.000 rupiah. saat itu itu begitu besar, sampai aku tak ingin menggunakannya untuk apapun.
beliau pulang waktu aku kelas 2 SMP. dan lagi-lagi beliau harus pergi lagi waktu aku kelas 3 SMP agar aku bisa melanjutkan SMA. dan untungnya aku juga bisa masuk sekolah negeri. dan di SMA itu aku bener-bener merasa kalau aku sendiri yang waktu wisuda gak ada yang mendampingi, seseorang yang ku sebut Pakde yang biasanya menjadi wali muridku sedang tidak bisa hadir, omku, tanteku dan semuanya gak ada yang bisa dateng. gimana rasanya gak ada siapapun waktu wisudamu SMA.
sampai aku kuliah, aku diterima dijurusan akuntansi dan kebidanan, waktu itu ibuku menyarankan agar aku masuk kebidanan. aku menurutinya, dan hingga aku lulus kuliah ibuku masih bolak-balik ke Malaysia.
aku masih belum bisa membahagiakan ibuku, aku belum mendapatkan pekerjaan yang bisa membanggakannya. aku begitu merindukannya, aku begitu menyayanginya.
semoga Allah menjawab doa-doaku agar ibuku selalu bahagia, dan aku bisa mendapat pekerjaan yang membahagiakan.
Miss you momsky :*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar