Rabu, 25 Maret 2015

rasa versus logika?



Andai aku bisa memilih pada siapa aku jatuhkan hati. Tak bolehkah aku jujur pada diriku sendiri tentang perasaan yang membuncah?
Tidak mungkinkah jika aku utarakan rasa yang mencuat dalam dada?
Salahkah jika semua yang kualami terjadi tanpa kuminta?
Bagaimana bisa hati menjelaskan pada logika?
Dan bagaimana bisa logika mengerti jika ia hanya berpikir rasional saja?
Logika masih rela rasaku mengalir deras mengikuti arus. Logika mungkin mengerti kondisi rasa yang makin meluap tak tahu batas, tapi perasaan hati tak pernah mau mendengar logika yang berusaha memperjelas. Apakah rasa ini masih bertahan jika logika yang menang?
Sejujurnya, aku tidak ingin mengejar, cukup menanti. Aku tidak ingin memaksa, cukup pasrah diri. Aku tidak ingin berucap, cukup menutup rapat ~
Ini masih tentang kamu matacrop. Rinduku pada semakin meluap tak terkendalikan, aku seolah ingin berteriak padamu bahwa aku sungguh ingin bertemu denganmu, tapi bisakah aku?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar