Andai aku bisa memilih pada siapa
aku jatuhkan hati. Tak bolehkah aku jujur pada diriku sendiri tentang perasaan
yang membuncah?
Tidak mungkinkah jika aku
utarakan rasa yang mencuat dalam dada?
Salahkah jika semua yang kualami
terjadi tanpa kuminta?
Bagaimana bisa hati menjelaskan
pada logika?
Dan bagaimana bisa logika
mengerti jika ia hanya berpikir rasional saja?
Logika masih rela rasaku mengalir
deras mengikuti arus. Logika mungkin mengerti kondisi rasa yang makin meluap
tak tahu batas, tapi perasaan hati tak pernah mau mendengar logika yang
berusaha memperjelas. Apakah rasa ini masih bertahan jika logika yang menang?
Sejujurnya, aku tidak ingin
mengejar, cukup menanti. Aku tidak ingin memaksa, cukup pasrah diri. Aku tidak
ingin berucap, cukup menutup rapat ~
Ini masih tentang kamu matacrop. Rinduku
pada semakin meluap tak terkendalikan, aku seolah ingin berteriak padamu bahwa
aku sungguh ingin bertemu denganmu, tapi bisakah aku?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar